October 31, 2009

Key Performance Indicator

Posted in Entrepreneurship at 4:01 pm by stephanusyanggi

Hampir kebanyakan orang beranggapan ada kesamaan antara Key Performance Indicator (KPI) dan Metric. Anggapan itu tidak sepenuhnya salah, karena sebenarnya KPI itu adalah metric, tapi tidak semua metric itu adalah KPI. Nah, terus bagaimana menjelaskannya? Jawaban sebenarnya adalah bagaimana membedakan antara metric yang merupakan KPI dan metric yang hanya merupakan ukuran saja / indicator only.

Dari namanya, Key Performance Indicator sudah menyebutkan, performance indicator atau penunjuk kinerja. Contohnya performance suatu proses diukur atau ditunjuk melalui suatu KPI.  KPI bukan hanya mengukur suatu panjang, suatu waktu proses, suatu umur alat tetapi lebih tepat ukuran dari suatu performance atau kinerja. Lebih lanjut, KPI merupakan ukuran kunci (key) terhadap bisnis atau kesuksesan, bukan hanya ukuran seadanya / sambil lalu dari suatu bisnis proses. Dengan demikian, KPI sangat erat berhubungan dengan obyektif dari proses yang akan diukur.

Sebuah organisasi layaknya memiliki banyak metric, namun hanya sedikit KPI. Contoh metric adalah : profitabilitas, pangsa pasar, penjualan, jumlah karyawan dst. Namun KPI  merupakan suatu performance metric yang secara nyata dan jelas terkait dengan sasaran strategis organisasi yang mampu mendorong organisasi menerjemahkan strateginya ke dalam terminologi yang bisa dikuantifikasi. Rancangan KPI yang baik memberikan informasi yang dalam, jelas dan tajam mengenai kecenderungan suatu kinerja, sementara itu juga didukung oleh ketersediaan metric yang rinci. KPI yang tepat juga membantu apakah organisasi sudah melakukan hal yang benar dan mengetahui apa yang perlu perbaikan (improvement) atau penyesuaian.

Dengan demikian, tampaklah apa perbedaan dari metric dan KPI :

  • KPI adalah metric, tapi tidak semua metric merupakan KPI.
  • Organisasi memiliki banyak metric, tapi hanya sedikit KPI.
  • Metric dapat berupa suatu ukuran tentang suatu (besaran, jumlah, waktu), tetapi KPI adalah ukuran yang mempunya makna berarti dan kunci (matter most & key)
  • Metric dapat diubah atau tidak dapat diubah melalui suatu aksi. Tetapi KPI sebaiknya harus dapat diubah melalui suatu aksi (actionable). Jangan mengukur sesuatu sebagai KPI jika hal itu tak dapat diubah melalui serangkaian aksi spesifik.

Lalu kapan dan bilamana sebuah metric bisa menjadi KPI?  maka KPI adalah metric yang :

  • Outcome-oriented — bukan hanya sekedar output (keluaran dari proses), karena outcome memiliki pengaruh (impact).
  • Target-based — memiliki paling tidak satu nilai sasaran yang sensitif terhadap waktu.
  • Rated / Graded — memiliki nilai ambang (threshold) yang membedakan antara nilai aktual dan target.

Dengan tiga kriteria diatas, dapat digunakan untuk mengevaluasi apakah sebuah metric memenuhi status sebagai KPI yang membantu untuk tetap fokus pada ukuran tersebut sebagai salah satu kunci menuju kesuksesan organisasi. Deskripsi mengenai kriteria tersebut akan dijelaskan pada tulisan selanjutnya.

Advertisements

October 25, 2009

China Strategic Business

Posted in Entrepreneurship at 9:14 am by stephanusyanggi

Negara China mempunyai sejarah yang panjang dalam hal peperangan antar
kerajaannya. Sehingga banyak orang pintar yang menjadi penasehat perang atau
para jendral harus mengadu strategi untuk memenangkan sebuah peperangan. Di
antaranya yang paling terkenal adalah Sun Tsu , Sun Bing , Qin Shi Huang, Liu
Bang, Cao-Cao, Zhuge Liang , dll. Nah tulisan kali ini kita hanya akan membahas
3 strategi perang China jaman dulu yang dikembangkan dan dipraktekkan di jaman
modern ini terutama di Indonesia. Kenapa cuma tiga ? Karena ada ribuan atau
mungkin ratusan ribu strategi perang yang mereka terapkan jaman dulu yang tidak
mungkin kita bahas satu persatu. Nah apa-apa saja strategi perangnya itu ? Mari
kita bahas satu persatu.

1. Untuk menaklukan dunia saya tidak perlu memiliki seribu pasukan tetapi saya
hanya butuh satu anak perempuan yang paling cantik di negeri ini. (Sun Tsu)

Maksud dari tulisan ini adalah :
Pada jaman dahulu di negeri China seorang Kaisar dapat memiliki selir hingga
mencapai 200 orang. Bagi yang memiliki anak perempuan yang cantik dapat di
ajukan ke Kaisar untuk dipersunting sebagai selir. Nah kalau kita memiliki
seorang anak perempuan yang cantik bahkan paling cantik di negeri itu maka
otomatis pasti akan dijadikan selir oleh Kaisar. Dan dengan menjadi yang
tercantik dari semua selir yang di miliki Kaisar maka tentunya akan menjadi
selir kesayangan Kaisar yang mana akan dipenuhi semua permintaannya oleh Kaisar.
Jadi dengan begitu kita bisa memerintah kerajaan melalui sang anak.
Jadi inti dari seni perang ini adalah mempergunakan daya tarik wanita atau di
negeri China dikenal dengan strategi ” JEBAKAN WANITA CANTIK ”

Bagaimana hal ini dipraktekan di jaman modern ???
Teori ini dikembangkan dengan baik di bidang pemasaran dan politik.
Kita bisa lihat bagaimana tenaga-tenaga wanita dijadikan Sales Promotion Girls
untuk menarik pembeli atau pengunjung suatu event dan bagaimana tenaga wanita
juga dijadikan Lady Escourt yang kerjanya melakukan lobby kepada klien guna
memenangkan sebuah tender. Selain dari pada itu kita juga mendengar wanita
dimanfaatkan untuk menghancurkan karir seseorang dengan memakai jasa mereka
sebagai pembuat scandal kepada lawan bisnis atau politik.

2. Setelah sampai didaerah musuh bakar kapal dan buang persediaan makan. (Xiang
Yu)

Maksud dari teori ini adalah :
Ketika seorang Jendral kejam yang bernama Xiang Yu ingin memaksa anak buahnya
berjuang mati-matian sampai titik darah penghabisan maka cara yang ditempuhnya
adalah dengan mengancam kelangsungan hidup dari para tentaranya dengan membakar
kapal untuk mereka pulang serta membuang semua perbekalan untuk makan mereka.
Sehingga kalau mereka tetap ingin hidup jalan satu-satunya adalah memenangkan
perang. Karena kalau mereka dapat memenangkan peperangan berarti mereka dapat
merampas semua kebutuhan yang mereka butuhkan dari pihak musuh yang kalah.

Di jaman modern strategi ini dipraktekan di bidang perdagangan atau lebih
tepatnya di bidang Ketenaga kerjaan.
Cara yang dilakukan pengusaha atau perusahaan adalah dengan memberikan gaji yang
kecil dan pas-pasan kepada karyawan agar mereka tidak dapat memenuhi kebutuhan
hidup mereka dan baru bisa mencukupi kebutuhan mereka kalau mereka mencapai
target yang ditentukan perusahaan dengan imbalan bonus dari pencapaian target.
Jadi dengan gaji yang pas-pasan atau malah kurang, maka tanpa disuruhpun para
pegawai mereka akan bekerja mati-matian untuk mencapai target yang ditentukan
agar menerima bonus yang dijanjikan perusahaan untuk dapat memenuhi kebutuhan
mereka sehari-hari.

3. Tempat yang paling aman adalah tempat yang paling berbahaya. ( Sam Kok )

Apa maksud dari tulisan diatas ???
Maksudnya adalah ketika melakukan pencurian di istana kaisar maka tempat yang
paling aman bersembunyi adalah di istana itu sendiri. Kenapa ??? Karena
kebiasaan orang mencuri di istana kaisar pasti sudah lari terbirit-birit dengan
memakai jurus langkah sejuta. Karena kalau ketahuan mencuri akan langsung di
hukum pancung atau disiksa sampai mati . Maka dengan tetap di istana bahkan
berteriak maling dan ikut serta dalam pencarian pencuri itu maka pasti orang
tidak akan menyangka bahwa dialah yang melakukan pencurian karena semua orang
tidak akan mempuyai nyali seperti itu.

Dijaman sekarang ini strategi perang ini malah lebih sering kita temukan di
Indonesia. Para pejabat atau pemilik kekuasaan yang melakukan korupsi akan lebih
dulu teriak maling kepada orang lain dan bertindak seakan-akan ingin memberantas
korupsi agar orang menyangka dirinya bersih dari korupsi. Orang sudah pasti akan
berpaling kepada orang yang diteriakan dari pada kepada dirinya yang pura-pura
bersih bahkan orang akan mendukungnya atas usahanya memberantas korupsi padahal
dialah biang dari korupsi itu.

Dari tulisan diatas kita dapat melihat bahwa strategi perang China jaman dahulu
tersebut telah dimodif sedemikian rupa agar dapat dipergunakan di abad modern
ini . Tetapi yang sangat disayangkan mereka menggunakannya untuk kepentingan dan
keperluan yang negatif.

October 12, 2009

10 Key Succes Japanese People

Posted in Entrepreneurship at 9:22 pm by stephanusyanggi

1. Hard Work

Sudah menjadi rahasia umum bahwa bangsa Jepang adalah pekerja keras. Rata-rata jam kerja pegawai di Jepang adalah 2450 jam/tahun, sangat tinggi dibandingkan dengan Amerika (1957 jam/tahun), Inggris (1911 jam/tahun), Jerman (1870 jam/tahun), dan Perancis (1680 jam/tahun). Seorang pegawai di Jepang bisa menghasilkan sebuah mobil dalam 9 hari, sedangkan pegawai di negara lain memerlukan 47 hari untuk membuat mobil yang bernilai sama. Seorang pekerja Jepang boleh dikatakan bisa melakukan pekerjaan yang biasanya dikerjakan oleh 5-6 orang. Pulang cepat adalah sesuatu yang boleh dikatakan “agak memalukan” di Jepang, dan menandakan bahwa pegawai tersebut termasuk “yang tidak dibutuhkan” oleh perusahaan.

2. Shy

Malu adalah budaya leluhur dan turun temurun bangsa Jepang. Harakiri (bunuh diri dengan menusukkan pisau ke perut) menjadi ritual sejak era samurai, yaitu ketika mereka kalah dan pertempuran. Masuk ke dunia modern, wacananya sedikit berubah ke fenomena “mengundurkan diri” bagi para pejabat (mentri, politikus, dsb) yang terlibat masalah korupsi atau merasa gagal menjalankan tugasnya. Efek negatifnya mungkin adalah anak-anak SD, SMP yang kadang bunuh diri, karena nilainya jelek atau tidak naik kelas. Karena malu jugalah, orang Jepang lebih senang memilih jalan memutar daripada mengganggu pengemudi di belakangnya dengan memotong jalur di tengah jalan. Mereka malu terhadap lingkungannya apabila mereka melanggar peraturan ataupun norma yang sudah menjadi kesepakatan umum.

3. Frugal

Orang Jepang memiliki semangat hidup hemat dalam keseharian. Sikap anti konsumerisme berlebihan ini nampak dalam berbagai bidang kehidupan. Di masa awal mulai kehidupan di Jepang, saya sempat terheran-heran dengan banyaknya orang Jepang ramai belanja di supermarket pada sekitar jam 19:30. Selidik punya selidik, ternyata sudah menjadi hal yang biasa bahwa supermarket di Jepang akan memotong harga sampai separuhnya pada waktu sekitar setengah jam sebelum tutup. Seperti diketahui bahwa Supermarket di Jepang rata-rata tutup pada pukul 20:00.

4. Loyalty

Loyalitas membuat sistem karir di sebuah perusahaan berjalan dan tertata dengan rapi. Sedikit berbeda dengan sistem di Amerika dan Eropa, sangat jarang orang Jepang yang berpindah-pindah pekerjaan. Mereka biasanya bertahan di satu atau dua perusahaan sampai pensiun. Ini mungkin implikasi dari Industri di Jepang yang kebanyakan hanya mau menerima fresh graduate, yang kemudian mereka latih dan didik sendiri sesuai dengan bidang garapan (core business) perusahaan.

5. Inovation

Jepang bukan bangsa penemu, tapi orang Jepang mempunyai kelebihan dalam meracik temuan orang dan kemudian memasarkannya dalam bentuk yang diminati oleh masyarakat. Menarik membaca kisah Akio Morita yang mengembangkan Sony Walkman yang melegenda itu. Cassete Tape tidak ditemukan oleh Sony, patennya dimiliki oleh perusahaan Phillip Electronics. Tapi yang berhasil mengembangkan dan membundling model portable sebagai sebuah produk yang booming selama puluhan tahun adalah Akio Morita, founder dan CEO Sony pada masa itu. Sampai tahun 1995, tercatat lebih dari 300 model walkman lahir dan jumlah total produksi mencapai 150 juta produk. Teknik perakitan kendaraan roda empat juga bukan diciptakan orang Jepang, patennya dimiliki orang Amerika. Tapi ternyata Jepang dengan inovasinya bisa mengembangkan industri perakitan kendaraan yang lebih cepat dan murah.

6. Never Give Up

Sejarah membuktikan bahwa Jepang termasuk bangsa yang tahan banting dan pantang menyerah. Puluhan tahun dibawah kekaisaran Tokugawa yang menutup semua akses ke luar negeri, Jepang sangat tertinggal dalam teknologi. Ketika restorasi Meiji (meiji ishin) datang, bangsa Jepang cepat beradaptasi dan menjadi fast-learner. Kemiskinan sumber daya alam juga tidak membuat Jepang menyerah. Tidak hanya menjadi pengimpor minyak bumi, batubara, biji besi dan kayu, bahkan 85% sumber energi Jepang berasal dari negara lain termasuk Indonesia . Kabarnya kalau Indonesia menghentikan pasokan minyak bumi, maka 30% wilayah Jepang akan gelap gulita Rentetan bencana terjadi di tahun 1945, dimulai dari bom atom di Hiroshima dan Nagasaki , disusul dengan kalah perangnya Jepang, dan ditambahi dengan adanya gempa bumi besar di Tokyo . Ternyata Jepang tidak habis. Dalam beberapa tahun berikutnya Jepang sudah berhasil membangun industri otomotif dan bahkan juga kereta cepat (shinkansen) . Mungkin cukup menakjubkan bagaimana Matsushita Konosuke yang usahanya hancur dan hampir tersingkir dari bisnis peralatan elektronik di tahun 1945 masih mampu merangkak, mulai dari nol untuk membangun industri sehingga menjadi kerajaan bisnis di era kekinian. Akio Morita juga awalnya menjadi tertawaan orang ketika menawarkan produk Cassete Tapenya yang mungil ke berbagai negara lain. Tapi akhirnya melegenda dengan Sony Walkman-nya. Yang juga cukup unik bahwa ilmu dan teori dimana orang harus belajar dari kegagalan ini mulai diformulasikan di Jepang dengan nama shippaigaku (ilmu kegagalan). Kapan-kapan saya akan kupas lebih jauh tentang ini

7. Reading Culture

Jangan kaget kalau anda datang ke Jepang dan masuk ke densha (kereta listrik), sebagian besar penumpangnya baik anak-anak maupun dewasa sedang membaca buku atau koran. Tidak peduli duduk atau berdiri, banyak yang memanfaatkan waktu di densha untuk membaca. Banyak penerbit yang mulai membuat man-ga (komik bergambar) untuk materi-materi kurikulum sekolah baik SD, SMP maupun SMA. Pelajaran Sejarah, Biologi, Bahasa, dsb disajikan dengan menarik yang membuat minat baca masyarakat semakin tinggi. Saya pernah membahas masalah komik pendidikan di blog ini. Budaya baca orang Jepang juga didukung oleh kecepatan dalam proses penerjemahan buku-buku asing (bahasa inggris, perancis, jerman, dsb). Konon kabarnya legenda penerjemahan buku-buku asing sudah dimulai pada tahun 1684, seiring dibangunnya institute penerjemahan dan terus berkembang sampai jaman modern. Biasanya terjemahan buku bahasa Jepang sudah tersedia dalam beberapa minggu sejak buku asingnya diterbitkan.

8. Team Work

Budaya di Jepang tidak terlalu mengakomodasi kerja-kerja yang terlalu bersifat individualistik. Termasuk klaim hasil pekerjaan, biasanya ditujukan untuk tim atau kelompok tersebut. Fenomena ini tidak hanya di dunia kerja, kondisi kampus dengan lab penelitiannya juga seperti itu, mengerjakan tugas mata kuliah biasanya juga dalam bentuk kelompok. Kerja dalam kelompok mungkin salah satu kekuatan terbesar orang Jepang. Ada anekdot bahwa “1 orang professor Jepang akan kalah dengan satu orang professor Amerika, hanya 10 orang professor Amerika tidak akan bisa mengalahkan 10 orang professor Jepang yang berkelompok” . Musyawarah mufakat atau sering disebut dengan “rin-gi” adalah ritual dalam kelompok. Keputusan strategis harus dibicarakan dalam “rin-gi”.

9. Independent

Sejak usia dini anak-anak dilatih untuk mandiri. Irsyad, anak saya yang paling gede sempat merasakan masuk TK (Yochien) di Jepang. Dia harus membawa 3 tas besar berisi pakaian ganti, bento (bungkusan makan siang), sepatu ganti, buku-buku, handuk dan sebotol besar minuman yang menggantung di lehernya. Di Yochien setiap anak dilatih untuk membawa perlengkapan sendiri, dan bertanggung jawab terhadap barang miliknya sendiri. Lepas SMA dan masuk bangku kuliah hampir sebagian besar tidak meminta biaya kepada orang tua. Teman-temen seangkatan saya dulu di Saitama University mengandalkan kerja part time untuk biaya sekolah dan kehidupan sehari-hari. Kalaupun kehabisan uang, mereka “meminjam” uang ke orang tua yang itu nanti mereka kembalikan di bulan berikutnya.

10. Keep The Tradition and Respect With Their  Parents

Perkembangan teknologi dan ekonomi, tidak membuat bangsa Jepang kehilangan tradisi dan budayanya. Budaya perempuan yang sudah menikah untuk tidak bekerja masih ada dan hidup sampai saat ini.

Budaya minta maaf masih menjadi reflek orang Jepang. Kalau suatu hari anda naik sepeda di Jepang dan menabrak pejalan kaki , maka jangan kaget kalau yang kita tabrak malah yang minta maaf duluan.

Sampai saat ini orang Jepang relatif menghindari berkata “tidak” untuk apabila mendapat tawaran dari orang lain. Jadi kita harus hati-hati dalam pergaulan dengan orang Jepang karena “hai” belum tentu “ya” bagi orang Jepang Pertanian merupakan tradisi leluhur dan aset penting di Jepang. Persaingan keras karena masuknya beras Thailand dan Amerika yang murah, tidak menyurutkan langkah pemerintah Jepang untuk melindungi para petaninya. Kabarnya tanah yang dijadikan lahan pertanian mendapatkan pengurangan pajak yang signifikan, termasuk beberapa insentif lain untuk orang-orang yang masih bertahan di dunia pertanian. Pertanian Jepang merupakan salah satu yang tertinggi di dunia.

October 7, 2009

Kiat Memulai Usaha

Posted in Entrepreneurship at 11:20 am by stephanusyanggi

  1. START WITH A DREAM: Mulailah dari sebuah mimpi dan yakinkan akan produk yang akan kita tawarkan.
  2. LOVE THE PRODUCT OR SERVICE:  Kecintaan akan produk kita akan memberikan sebuah keyakinan pada pelanggan kita dan membuat kerja keras terasa ringan.
  3. LEARN THE BASIC OF BUSINESS: Tidak akan ada kesuksesan tanpa ada sebuah pengetahuan dasar dari usaha yang akan kita jalani. Carilah Guru yang baik.
  4. WILLING TO TAKE CALCULATED RISK: Ambilah resiko namun resiko yang sudah diperhitungkan, karena hal tersebut merupakan kunci awal dalam sebuah usaha.
  5. SEEK ADVICE, BUT FOLLOW YOUR BELIEF: Entrepreneur yang baik selalu mencari nasehat, namun keputusan akhir tetap ditangannya.
  6. WORK HARD, 7 DAYS A WEEK, 18 HOUR A DAY: Entrepreneur sejati tidak pernah lepas dari kerjanya, pada saat tidur pun otaknya terus bekerja dan berpikir akan bisnisnya.
  7. MAKE FRIENDS AS MUCH AS POSSIBLE: Bertemanlah sebanyak-banyaknya, karena teman akan membantu mengembangkan usaha, memberi nasehat, dan menolong pada masa sulit.
  8. DEAL WITH FAILURES: hadapilah kegagalan, kegagalan merupakan “vitamin” dalam mengembangkan kemampuan berwirausaha kita.
  9. JUST DO IT, NOW! Lakukan sekarang juga, karena besok bukanlah milik kita.

(Majalah Harmoni – Majelis Mahayana Buddhis Indonesia)

October 6, 2009

Orang Bodoh VS Orang Pintar

Posted in Entrepreneurship at 8:26 am by stephanusyanggi

1. Orang bodoh sulit dapat kerja, akhirnya dia bisnis. Agar bisnisnya berhasil, tentu dia harus rekrut orang Pintar. Walhasil Bosnya orang pintar adalah orang bodoh.

2. Orang bodoh sering melakukan kesalahan, maka dia rekrut orang pintar yang tidak pernah salah untuk memperbaiki yang salah. Walhasil orang bodoh memerintahkan orang pintar untuk keperluan orang bodoh.

3. Orang pintar belajar untuk mendapatkan ijazah untuk selanjutnya mendapatkan kerja. Orang bodoh berpikir secepatnya mendapatkan uang untuk membayari proposal yang diajukan orang pintar.

4. Orang bodoh tidak bisa membuat teks pidato, maka disuruh orang pintar untuk membuatnya.

5. Orang Bodoh kayaknya susah untuk lulus sekolah hukum (SH), oleh karena itu orang bodoh memerintahkan orang pintar untuk membuat undang-undangnya orang bodoh.

6. Orang bodoh biasanya jago cuap-cuap jual omongan, sementara itu orang pintar percaya. Tapi selanjutnya orang pintar menyesal karena telah mempercayai orang bodoh. Tapi toh saat itu orang bodoh sudah ada di atas.

7. Orang bodoh berpikir pendek untuk memutuskan sesuatu di dipikirkan panjang-panjang oleh orang pintar, walhasil orang orang pintar menjadi staffnya orang bodoh.

8. Saat bisnis orang bodoh mengalami kelesuan, dia PHK orang-orang pintar yang berkerja. Tapi orang-orang pintar demo, Walhasil orang-orang pintar ‘meratap-ratap’ kepada orang bodoh agar tetap di berikan pekerjaan.

9. Tapi saat bisnis orang bodoh maju, orang pinter akan menghabiskan waktu untuk bekerja keras dengan hati senang, sementara orang bodoh menghabiskan waktu untuk bersenang-senang dengan keluarganya.

10. Mata orang bodoh selalu mencari apa yang bisa dijadikan duit. Mata orang pintar selalu mencari kolom lowongan perkerjaan.

11. Bill Gate (Microsoft), Dell, Hendri (Ford), Thomas Alfa Edison, Liem Siu Liong (BCA group), Ali Markus (Maspion) adalah orang-orang Bodoh (tidak pernah dapat S1) yang kaya. Ribuan orang-orang pintar bekerja untuk mereka. Dan puluhan ribu jiwa keluarga orang pintar bergantung pada ‘orang bodoh’.

jadi, apakah anda ingin menjadi orang “bodoh” atau orang “pintar”?

(Dikutip dari KapanLagi.com)

October 5, 2009

Sang Entrepreneur

Posted in Entrepreneurship at 11:50 am by stephanusyanggi

Ada yang melihat namun tidak berpikir

Ada yang berpikir namun tidak mengerti

Ada yang mengerti namun tidak berkesan

Ada yang berkesan namun tidak bereaksi

Ada yang bereaksi namun tidak ber-entrepreneur

Ada yang ber-entrepreneur namun tidak berhasil

Entrepreneur sejati gagal 10 kali namun bangkit 11 kali

(Quantum Leap – Dr. Ir. Ciputra)

October 4, 2009

4 Kategori Ide Menjadi Peluang Bisnis

Posted in Entrepreneurship at 5:41 pm by stephanusyanggi

  1. Menarik bagi pelanggan : peluang bisnis yang ada harus memiliki kemampuan untuk memecahkan persoalan yang dihadapi serta mampu meningkatkan kualitas hidup pelanggan.
  2. Dapat berhasil dalam lingkungan bisnis yang dimasuki.
  3. Dapat dilaksanakan dalam window of opportunity yang ada. window of opportunity adalah waktu yang dimiliki untuk mengimplementasikan ide yang ada kepasar.
  4. Memiliki sumber daya dan ketrampilan untuk menciptakan bisnis tersebut.

(Leadpreneurship – A.B Susanto)

September 22, 2009

Kontribusi Entrepreneur Dalam Dunia Ekonomi dan Bisnis

Posted in Entrepreneurship at 2:27 pm by stephanusyanggi

  1. Mengembangkan Pasar Baru, Seorang Entrepreneur adalah orang-orang yang cerdik dan kreatif yang dapat menciptakan pelanggan, hal ini lah yang membedakan Entrepreneur dengan pelaku bisnis lainnya yang hanya menjalankan fungsi tradisional manajemen.
  2. Penemuan Sumber Daya Baru, seorang Entrepreneur sejati tidak akan puas dengan sumber daya yang ada, berkat karakter mereka yang inovatif, mereka berusaha menemukan sumber-sumber daya yang baru yang lebih menguntungkan.
  3. Mengolah Modal, Entrepreneur menjadi aktor utama didalam pengelolaan seluruh faktor produksi, dan seorang Entrepreneur memiliki inisiatif serta kepercayaan diri dalam pengolahan modal untuk modal bisnis baru ataupun pengembangan bisnisnya.
  4. Memperkenalkan Teknologi, Industri, dan Produk Baru, Seorang Entrepreneur selalu mengambil manfaat dari setiap peluang bisnis yang muncul dan mengubahnya menjadi keuntungan. Semangat inilah yang membuat modernisasi dan kemajuan bagi ekonomi, dengan munculnya inovasi baru setiap tahunnya.
  5. Menciptakan Lapangan Pekerjaan, Sektor swasta menjadi penyerap tenaga kerja terbesar. Dengan lebih banyaknya pekerjaan, berarti meningkatnya pendapatan, yang selanjutnya meningkatkan permintaan, dengan begitu akan berpengaruh terhadap tingkat produksi, yang kemudian kembali lagi kepada meningkatnya lapangan pekerjaan.

(Leadpreneurship – A.B. Susanto)

September 21, 2009

Jumlah Entrepreneur di Indonesia Terlalu Sedikit

Posted in Entrepreneurship at 4:19 am by stephanusyanggi

David McClelland berpendapat bahwa, suatu negara akan menjadi makmur apabila mempunyai Entrepreneur sedikitnya 2% dari jumlah penduduk. Singapura, menurut laporan Global Entrepreneurship Monitor tahun 2005 memiliki Entrepreneur sebanyak 7,2% dari total penduduk. padahal pada tahun 2001 hanya tercatat sebesar 2,1%. jumlah ini menarik dibandingkan dengan Amerika Serikat, lokomotif ekonomi selama satu abad terakhir ini. pada tahun 1983, penduduk Amerika Serikat yang berjumlah 280 juta jiwa, sudah memiliki 6 juta Entrepreneur atau 2.14% dari total penduduknya. Di Indonesia diperkirakan hanya 400 ribu orang yang tercatat menjadi pelaku usaha yang mandiri atau sekitar 0.18% dari populasi. Dengan jumlah penduduk sebesar 220 juta jiwa, Indonesia membutuhkan 4,4 juta Entrepreneur. Lesther Thurow menyebut betapa penting arti Entrepreneur. Ia mengatakan, “there are no institutional subtitute for individuals Entrepreneurial change agents. The Entrepreneur winners of the game become wealthy and powerful, but no without Entrepreneurs, economies become poor and weak. The old will not exit; the new cannot enter.”

(Ciputra Quantum Leap – Dr.Ir. Ciputra)

September 14, 2009

6 Cara Mengubah Keinginan Menjadi Uang

Posted in Entrepreneurship at 2:31 am by stephanusyanggi

  1. Tetapkan dalam pikiran Anda JUMLAH PASTI uang yang Anda inginkan
  2. Putuskan apa yang akan Anda berikan untuk mengganti uang yang Anda inginkan itu. (tak ada sesuatu yang gratis)
  3. Tentukan tanggal pasti kapan Anda berniat memiliki uang yang Anda inginkan.
  4. Buatlah sebuah rencana yang pasti untuk meraih keinginan Anda dan mulailah mewujudkannya siap atau tidak.
  5. Sekarang, Tuliskan sebuah Pernyataan yang jelas dan da ringkas berisi jumlah uang yang diinginkan, batas waktu yang diinginkan, kontraprestasi atas uang tersebut, dan gambaran jelas cara mendapatkanya.
  6. Bacakanlah keras-keras pernyataan tersebut dua kali sehari (sebelum dan sesudah bangun tidur), rasakan dan yakinkan Anda memiliki uang tersebut.

(The New Think And Grow Rich – Napoleon Hill)